Senin, 07 Maret 2011

Ketentuan Hibah

SEBAGAI individu, manusia tidak bisa lepas atau melepaskan diri dari komunitasnya. Pada konteks demikian, dalam hidup dan kehidupan berkomunitas, ada hak dan kewajiban yang melekat pada diri setiap kita, salah satu di antaranya memberi bantuan atau kemudahan atas berbagai kesulitan orang lain. Dalam Islam kewajiban itu dapat berupa zakat, infak, sadakah, wakaf, hibah dan lain sebagainya.

Terkait dengan hibah, dari Jabir bin ‘Abdullah r.a katanya: Rasulullah SAW membolehkan memberi (hibah) dengan ucapan: “Ini untuk anda dan keturunan anda, (maka pemberian itu tidak dapat diminta kembali untuk selama-lamanya). Apabila sipemberi berkata: “Ini untuk anda selama anda masih hidup”, maka harta pemberian itu kembali kepada si pemberi (bila orang yang diberi sudah wafat)”. (Hadits Shahih Muslim: 1602) *Izhar Ilyas

Minggu, 06 Maret 2011

Dinding Neraka

MENERIMA realitas kehidupan sebagai sebuah ketentuan dari Allah SWT, kemudian menjalaninya dengan penuh sabar dan tanggungjawab, adalah sebuah kebijakan yang tidak tertara bagi yang melakukannya di sisi Allah SWT. Terkait demikian, dari ‘Aisyah ra. katanya: “Seorang wanita datang kepadaku membawa dua orang anaknya, meminta makanan. Tetapi tidak ada yang didapatinya padaku ketika itu selain hanya sebuah korma. Korma itu dibaginya dua dan diberikannya kepada kedua anaknya, ia sendiri tidak memakan apa-apa. Kemudian ia berdiri dan pergi.  Setelah Nabi SAW datang, aku ceritakan hal itu kepada beliau. Lalu beliau bersabda: “Barangsiapa mendapat cobaan karena beberapa orang anak, maka semuanya itu akan menjadi dinding baginya dari api neraka”. (Hadits Shahih Bukhari: 728) *Izhar Ilyas

Jumat, 04 Maret 2011

Setan dan Pembohong

BERBOHONG atau berdusta, dimaksudkan untuk menyelamatkan atau membebaskan pelakunya dari berbagai tuduhan dan tuntutan. Sejatinya sikap demikian akan semakin lebih memperburuk citra pelaku terhadap tuduhan atau tuntutan tersebut. Sebab, untuk menutupi satu kebohongan ia terpaksa harus mempersiapkan seabrek kebohongan lain, yang tidak jarang akhirnya membuka kebohongan yang akan ditutupi itu.

Lalu untuk apa kita harus jadi pembohong, apalagi terkait demikian bukankah Allah SWT telah berfirman, artinya: “Maukah aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berdosa. Mereka menyampaikan hasil pendengaran mereka, sedangkan kebanyakan mereka orang-orang pendusta”. (QS Asy Syu’ara’: 221 s.d 223) *Izhar Ilyas

Rabu, 02 Maret 2011

Akankah Kita Kembali

DALAM konteks keindonesiaan, kendati telah hapir 66 tahun merdeka, namun kita masih belum juga keluar dari relung-relung gelap hidup dan kehidupan ini. Rakyat dan bangsa kita, kini seperti benar-benar telah bak bunyi adagium: “Ayam bertelur di atas padi mati kelaparan, itik berenang di air mati kehausan”. Tragis dan memiriskan memang kenyataan ini.

Di sa’at merenung-pandang hamparan sawah-ladang kehidupan berbangsa yang semakin kerontang, kita tersadar bahwa rupanya di dalam Al Quran Allah SWT telah berfirman, artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yag benar)”. (QS Ar Ruum: 41) *Izhar Ilyas

Selasa, 01 Maret 2011

Neraka dan Korma

DALAM bahasa Indonesia tempat itu disebut neraka, dalam bahasa Inggris ia disebut The Hell. Dari sudut kebahasaan ia disebut dalam berbagai nama, namun satu dalam makna, yaitu tempat pembalasan atas berbagai dosa yang dilakukan manusia dalam kehidupan dunia. Begitulah, kendati demikian tidak banyak orang yang mempedulikannya.

Terkait hal di atas dari ‘Adi bin Hatim r.a bahwa Nabi SAW menyebut neraka, lalu memalingkan mukanya dan mohon belindung dari neraka. Kemudian beliau menyebut sekali lagi, lalu memalingkan mukanya dan mohon berlindung dari neraka. Kemudian beliau bersabda: “Peliharalah dirimu dari neraka, walaupun hanya dengan memberikan sebelah korma. Siapa yang tidak sanggup hendaklah dengan mengucapkan perkataan yang baik”. (Hadits Shahih Bukhari: 1764) *Izhar Ilyas

Senin, 28 Februari 2011

Kesombongan dan Kebenaran

BILA kesombongan atau keangkuhan berhasil diinjeksikan iblis ke dalam diri kita umat manusia, maka manusia itu dipastikan buta terhadap kebenaran. Seperti difirmankan dalam Surat Asy Syu’ara ayat 49, begitulah yang terjadi dalam diri Fir’aun: “Dia (Fir’aun) berkata: ‘Mengapa kamu beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia pemimpinmu yang mengajarkan sihir. Nanti kamu pasti akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti akan aku potong tangan dan kakimu bersilang dan sungguh akan aku salib kamu semuanya”.
Begitulah, memetik hikmah dari sejarah kehidupan Fir’aun, Karun, Abu Lahab, Abu Jahal dan lain sebagainya, marilah kita setulus hati berazam untuk tidak menjadi orang yang sombong, agar nilai-nilai kebenaran mudah menyatu, masuk ke dalam diri kita. Semoga. *Izhar Ilyas

Sabtu, 26 Februari 2011

Kejujuran Dan Kedustaan

KENIKMATAN dan kebahagiaan hidup tidak akan pernah dirasakan bila di dalamnya kita berkecipak dengan kebohongan. Terkait demikian dari ‘Abdullah ra. katanya Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah selalu kamu berlaku jujur. Karena berlaku jujur membimbing kepada kebajikan, dan kebajikan membawa ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan berusaha mempertahankan (mencari) kejujuran, maka dia dicatat Allah sebagai ‘shiddiq’ (orang yang jujur). Dan hindarilah olehmu dusta, karena sesungguhnya dusta itu membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan mempertahankan kedustaan, maka ia dicatat Allah Ta’ala sebagai ‘kazaab’ (si pendusta atau pembohong)”. (Hadits Shahih Muslim: 2234) *Izhar Ilyas