Jumat, 11 Februari 2011

MS Kaban: Kekerasan terhadap Ahmadiyah terus Terjadi karena SKB Tiga Menteri Banci


Kamis, 10 Februari 2011 , 21:20:00 WIB
Laporan: Teguh Santosa


MS KABAN/IST

RMOL. Aksi kekerasan terhadap anggota Jemaat Ahmadiyah akan terus terulang karena Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri  yang diterbitkan Juni 2008 bersifat banci.
“Selagi ummat Islam merasa terusik keimanannya oleh ajaran Ahmadiyah, selama itu pula cikeusik-cikeusik baru akan terus terjadi,” kata Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Malam Sambat Kaban, di Jakarta, Kamis petang (10/2).

PPP: Sejak Awal Datang, Ahmadiyah Selalu Jadi Bibit Konflik

AHMADIYAH

Kamis, 10 Februari 2011 , 13:02:00 WIB
Laporan: Ujang Sunda

MIRZA GHULAM AHMAD/IST

RMOL. Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Hasrul Anwar meminta Presiden SBY tidak ragu untuk membubarkan Ahmadiyah. Sebab, sejak datangnya ke Indonesia, Ahmadiyah terus menanamkan bibit-bibit konflik di masyarakat.
“Ahmadiyah datang ke Indonesia pada 1925. Lima tahun kemudian timbul konflik diberbagai daerah. Sekarang sudah 81 tahun, yang ada hanya menyebabkan konflik. Jadi, apa keberatan SBY untuk membubarkan Ahmadiyah,” katanya dalam diskusi di ruang pers DPR (Kamis, 10/2).
Hasrul melanjutkan, di Pakistan yang merupakan tempat lahir Ahmadiyah, Ahmadiyah sudah dilarang. Maka sangat mengherankan kalau Indonesia tetap membiarkan.
“SBY jangan hanya melakukan pencitraan. Bubarkan saja Ahmadiyah. Sebab, jumlahnya nggak banyak kok, cuma 50 ribu orang,” tukasnya.[ono]

Kitab Tadzkirah Pemecahbelah


Oleh Izhar Ilyas

MERUJUK Al Quran, seyogianya umat Islam bersaudara, sebab demikian difirmankan Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat, ayat 10, artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”.

Kini, persaudaraan itu seakan sesuatu yang mahal untuk dibeli, bagai suatu yang tinggi untuk digapai, dan seperti sesuatu yang panas untuk diraba. Apalagi persoalan hubungan antar Umat Islam dengan mereka yang telah menjadi Jemaat Ahmadiyah, pada akhir-akhir ini kembali menjadi fokus pembicaraan di mana-mana.

Dalam kata pengantar buku Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi & Masih Mau’ud, Ahmadiyah dimaksudkan sebagai; Suatu gerakan Islam sejati, didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam as di Qadian, India. Mirza sendiri seperti dijelaskan dalam buku itu diyakini sebagai nabi dan rasul. Dalam konteks demikian seperti dijelaskan lebih lanjut, lebih dari dua juta orang dari berbagai bangsa telah mempercayai beliau sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud pada akhir zaman.

Begitulah, Umat Islam dan Jemaat Ahmadiyah semestinya berasaudara, tetapi kenyataan tidak demikian. Kenapa? Sebab, umat Islam hanya percaya kepada Muhammad saw sebagai Rasulullah, sedangkan umat Islam yang telah menjadi Ahmadiyah selain percaya kepadanya juga percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad Sebagai Nabi dan RasulNya. Umat Islam hanya percaya kepada Al Quran sebagai wahyu Allah terakhir, sementara umat Islam yang telah menjadi Ahmadiyah selain percaya kepadanya juga percaya kepada Kitab Tadzkirah yang diturunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad.

Bila demikian, dalam tataran aqidah-keimanan dan atau keyakinan, masing-masing mereka kini telah berada pada dua kutub berbeda. Apalagi kitab Tadzkirah yang diyakini Ahmadiyah telah dengan sangat tegas mengkhittahkan hal seperti itu. Lalu dalam konteks Islam, seperti dijelaskan dalam kata pengantar buku Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad di atas, mungkinkah Ahmadiyah dapat dikatakan sebagai gerakan Islam sejati?

Menurut M. Amin Djamaludin, dalam bukunya Ahmadiyah dan Pembajakan Al-Qur’an, kitab Tadzkirah sejatinya merupakan pembajakan terhadap ayat-ayat Al-Quran. Menurut Amin Jamaludin, dari halaman 620 s.d 660 kitab Tadzkirah, setidaknya ditemukan 132 ayat Al Quran yang dibajak. Artinya, ke 132 ayat Al Quran tersebut di kalangan Ahmadi diyakini sebagai wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad.

Sementara menurut Hasan bin Mahmud, Mantan Mubaligh Ahmadiyah dan Direktur Umum Seksi Bahasa Arab Jema’at Ahmadiyah, bermarkas di London, Inggris.  Tadzkirah penuh dengan ilham-ilham dan kasyaf-kasyaf yang suatu waktu disampaikan dengan bahasa Ibrani, suatu waktu dengan bahasa Inggris, suatu waktu dengan bahasa Persia, suatu waktu dengan bahasa Punjab dan suatu waktu dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti dan dipahami oleh Mirza Ghulam sendiri.

Kitab Tadzkirah sebagai produk bajakan Mirza Ghulam terhadap Al-Quran dapat kita lihat pada ilham pertama dan kedua. Hal demikian ditemukan dalam buku kecil Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad, disusun puteranya, Hz. Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, buku berbahasa Urdu itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Malik Aziz Ahmad Khan, dan diterbitkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (1995).

Ilham pertama yang turun kepadanya itu adalah, artinya: Persumpahan demi Langit yang merupakan sumber takdir, dan demi peristiwa yang akan terjadi setelah tenggelamnya matahari pada hari ini. Bila dilihat matannya, ilham  itu persis sama dengan firman Allah dalam Surat Ath-Thaariq, ayat 1. Bandingkan arti Tadzkirah tersebut dengan Terjemahan ayat Al-Quran terkait: “Demi langit dan yang datang pada malam hari.”

Ilham di atas diterima Mirza ketika ia berusia 40 tahun, tepatnya pada tahun 1876, ketika ayahnya sedang sakit dan karenanya amat mencemaskan dirinya. 

Mengiringi ilham pertama lalu turun ilham ke dua, artinya: Apakah Allah tidak cukup bagi hamba-Nya?” Setelah dicermati ternyata ilham kedua juga merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Muhammad Rasulullah dalam Surat Az-Zumar ayat 36.

Di sini terlihat Mirza Ghulam Ahmad telah benar-benar melakukan suatu kebohongan publik. Sebuah tindakan yang sangat tidak terpuji.

Kendati orang-orang Ahmadiyah bersigigih membantah bahwa tidak benar Tadzkirah merupakan kitab suci Ahmadiyah, namun menurut Hasan bin Mahmud Audah hal tersebut tidak terbantah. Sebab, dalam jilid pertama kitab itu sangat jelas tertulis; “Tadzkirah adalah wahyu yang disucikan dan mimpi serta kasyaf Masih Maud A.S.”

Hal demikian semakin tidak terbantah, setelah melihat sikap perilaku umat Islam yang telah menjadi Ahmadiyah terhadap Umat Islam di luar jemaatnya. Menurut paham atau keyakinan Ahmadiyah seperti terdapat dalam kitab Tadzkirah bahwa barangsiapa yang tidak berbaiat kepada Mirza Ghulam Ahmad, dia itu durhaka kepada Allah dan RasulNya dan termasuk penghuni neraka Jahim. Untuk lebih jelas mari kita cermati Tadzkirah 342: “Sesungguhnya orang yang tidak mengikutimu dan tidak berbaiat kepadamu dan tetap menantang kepadamu, dia itu adalah orang yang durhaka kepada Allah dan RasulNya dan termasuk penghuni neraka Jahim.”

Lebih lanjut dalam kitab Tadzkirah halaman 600 dijelaskan: “Sesungguhnya Allah telah menjelaskan padaku bahwa setiap orang  yang telah  sampai kepadanya dakwahku kemudian dia tidak menerimaku, maka dia bukanlah seorang muslim, dan berhak mendapatkan siksaan dari Allah.”

Akhirnya, Hasan bin Mahmud menyatakan bahwa bila seorang Ahmadiyah shalat di belakang orang Islam yang bukan Ahmadiyah, ia berdosa. Menikahkan wanita Ahmadiyah kepada orang Islam adalah ma’siat dan menshalati jenazah orang Islam adalah perbuatan mungkar. Adapun cita-cita mereka, menurut Hasan adalah berupaya menarik orang-orang Islam supaya bergabung ke dalam barisan mereka dan menyerongkan pemikiran-pemikiran dan keyakinan-keyakinan mereka.▪*

[*Dimuat di Rubrik Komentar Harian Singgalang, Jum’at, 13 Juni 2008 ▫ 10 Jumadil Akhir 1429 H. Untuk penyempurnaan telah dilakukan perbaikan redaksional pada 8 Rabiul Awal 1432 H/11 Februari 2011, Penulis.]

Kesesatan Ahmadiyah


Oleh Izhar Ilyas

KONTROVERSI seputar Ahmadiyah, dengan terbitnya Rekomendasi Bakor Pakem yang memutuskan, bahwa Jemaat Ahmadiyah telah melakukan kegiatan atau penafsiran keagamaan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam serta menimbulkan keresahan dan pertentangan dalam masyarakat dan berpotensi mengganggu ketertiban umum, kembali menghangat.

Menyikapi keputusan Bakor Pakem itu, Ahmadiyah terlihat bergeming, malah seperti diberitakan harian Singgalang Padang, Kamis (17/4), mereka akan melakukan perlawanan melalui jalur hukum. Tidak tanggung-tanggung, mereka akan melaporkan kasus yang mereka alami ke Dewan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Sementara dari kalangan umat Islam, terlihat menyambut hangat rekomendasi tersebut, namun juga tidak kurang ada yang menolak.

Mengutip persda network, Rabu (16/4), menurut Singgalang, Juru Bicara Ahmadiyah, Ahmad Mubarik tegas membantah bahwa: “Kalau kami dikatakan tidak mempercayai Nabi Muhammad sebagai Nabi akhir, itu bohong. Dusta. Tidak pernah dalam keyakinan kita sejak 100 tahun lalu menyatakan Mirza Ghulam Ahmad pengganti Nabi Muhammad SAW. Tidak ada syari’at baru  lagi karena sudah sempurna.”

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah yang dikemukakan Ahmad Mubarik itu dan atau 12 Butir Penjelasan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia  yang sebelumnya gencar dipublikasikan kepada masyarakat, merupakan esensi keyakinan dan amalan penganut Ahmadiyah yang di dalamnya bersih dari kebohongan atau pembohongan.

Sebab, pada konteks syahadatain, kendati secara kasat mata diakui, Ahmadiyah tidak menolaknya, malah menempatkan unsur itu pada bagian pertama dari 12 Butir Penjelasan Ahmadiyah. Namun secara esensi, pemahaman mereka tentang syahadatain terindikasi telah sangat menyimpang dari aqidah Islam. Hal tersebut dikarenakan, Allah SWT yang dinyatakan dalam syahadatain itu, menurut kepercayaan Ahmadiyah telah diserupakan dengan gurita.

Kepercayaan Ahmadiyah seperti dikemukakan di atas, dijelaskan Dr. Ihsan Ilahi Zhahir dalam bukunya Al-Qadiyaniyah Dirasat wa Tahlil, berdasarkan tulisan Ghulam Al-Qadiyani, seorang pentolan Ahmadiyah lewat bukunya Taudhih Al-Maram, pada halaman 75, Ghulam menulis: “Kami bisa memastikan bahwa untuk menggambarkan bahwa wujud Allah itu memiliki banyak tangan dan kaki. Anggota badannya itu sangat banyak hingga tak terhitung dan dalam ukuran besar yang tak terbatas panjang dan lebarnya. Seperti gurita yang memiliki cabang yang sangat banyak yang membentang ke seluruh alam dan sisi-sisinya”.

Bila tentang Allah saja Ahmadiyah berani berkata seenak pemikiran, apa lagi mengenai RasulNya, KitabNya dan berbagai rukun iman lainnya. Lebih lanjut, mari kita lihat pula beberapa pernyataan Mirza Ghulam Ahmad, tentang hubungannya dengan Allah SWT. Terkait demikian, Dr. Ihsan Ilahi Zhahir mengutip Ghulam Al-Qadiyani dari beberapa sumber Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad berkata: “Allah berbicara kepadaku dengan mengatakan, ‘Dengarlah wahai anakKu.” Dan atau ia berujar, “Rabb telah berkata kepadaku, ‘Engkau adalah dariKu dan Aku adalah darimu, punggungmu adalah punggungKu.” Dan atau ia bercerita, “Sungguh Allah telah turun kepadaku dan aku menjadi perantara antara DzatNya dengan semua makhluk.” dan sebagainya.

Menurut  Aqidah Islam, terkait keimanan kepada Allah SWT, tidak satupun yang serupa atau menyerupai Allah. Kepercayaan tentang Allah seperti itu didasarkan kepada berbagai ayat Al Quran, antara lain Surat Asy-Syura, ayat 11, Allah SWT berfirman, artinya: “Tidak ada sesuatupun  yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Sementara dalam Surat Al Ikhlas ayat 4 Allah terlihat pula berfirman, artinya: “Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.”

Dari kenyataan demikian, masihkah Mirza Ghulam Ahmad seperti dijelaskan dalam 12 Butir Penjelasan Ahmadiyah itu, dianggap sebagai seorang guru, mursyid, pembawa berita dan peringatan serta pengembangan mubasysyirat, dan atau tepatkahkah bila ia dan jemaat yang dibentuknya dijuluki sebagai orang atau sesuatu yang memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Jawabnya, “tidak!”

Menguak lebih jauh misteri kesesatan Ahmadiyah ditilik dari aqidah dan ajaran Islam, Ahmad Hariadi mantan penyebar Ahmadiyah, dalam bukunya “Mengapa Saya Keluar dari Ahmadiyah Qadiani” menulis, bahwa seseorang yang akan menjadi anggota Ahmadiyah terlebih dahulu harus dibai’at. Bai’at tersebut ditujukan kepada pimpinan Qadiani yang disebut Khalifatul Masih.

Di dalam bai’at, setelah yang akan berbai’at mengisi formulir bai’at, kemudian ia disuruh membaca kalimat syahadat, disuruh mengakui dosa-dosa yang telah dibuatnya dan bertobat kepada Allah. Sebatas itu, terlihat tidak ada masalah, namun disinilah kemudian punca tumbuhnya masalah.

Sesudah bai’at dilakukan, yang berbai’at kemudian disuruh mengimani segala da’wah yang telah disampaikan Mirza Ghulam Ahmad, baik dia mengaku sebagai Nabi, Rasul, Mahdi, Nabi Isa kedua, Krisna, Budha, Zoroaster dan sebagainya.

Kemudian, Ahmadi pendamping prosesi pembai’atan berpesan, agar orang yang telah berbai’at itu, sekali-kali tidak boleh shalat bermakmum di belakang imam yang bukan Qadiani atau Ahmadiyah. Selain itu ia juga dilarang kawin atau menikah dengan orang bukan Qadiani. Di sini kebencian kepada umat Islam secara licik mulai mereka sisipkan. Sebab menurut aqidah Ahmadiyah: “Siapa saja yang tidak mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Zaman, Imam Mahdi dan Rasul Allah, maka orang itu adalah kafir dan matinya mati jahiliyah.

Dari beberapa penjelasan diatas terang terbukti, bahwa tidak ada kesesuaian kebenaran antara apa yang disampaikan Ahmad Mubarik serta 12 Butir Penjelasan Ahmadiyah dengan berbagai keyakinan dan amalan yang terjadi dalam Ahmadiyah.

Justru itu, dalam konteks ajaran Islam dikaitkan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, sangat tepat dan amat beralasan bila Bakor Pakem seputar kontroversi mengenai Ahmadiyah, akhirnya merekomendasi bahwa Ahmadiyah sesungguhnya telah melakukan kegiatan dan penafsiran keagamaan menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam, serta menimbulkan keresahan dan pertentangan dalam masyarakat.

Bila hal tersebut tidak disikapi secara arif dan bijak oleh pemerintah, dipastikan akan sangat berpotensi mengganggu ketertiban umum. Pada konteks demikian, kiranya pemerintah diharapkan mampu membuat rambut tidak putus dan tepungpun tidak terserak. Semoga.

[Dimuat di Rubrik Munazharah, Majalah Tabligh, MTDK PP Muhammkadiyah Jakarta, Juni 2008, hal. 50 – 51]

Kamis, 10 Februari 2011

Ulama di Aceh Bilang, Haram Rayakan Hari Valentin


Ulama di Aceh Bilang, Haram Rayakan Hari Valentin
REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH - Kalangan ulama Aceh menegaskan 'haram' merayakan 'valentine day' (hari kasih sayang) khususnya bagi masyarakat muslim di provinsi itu. "Haram bagi kaum muslimin merayakan 'valentine day' karena Islam mengaktualisasikan hari kasih sayang tidak hanya sekali dalam setahun, tapi setiap detik dan waktu sepanjang kehidupan," kata Tgk Faisal Ali di Banda Aceh, Kamis (10/2).
Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) itu sikap saling kasih sayang itu memang sudah diajarkan dalam agama Islam kepada sesama makhluk. Hal ini penting dipahami tidak bisa diterima logika ketika ajaran harus berkasih sayang yang sudah menyatu dengan orang muslim harus diperingati setahun sekali.
"Karenanya, wajib adanya pencegahan dari aparatur penegak hukum dan pemerintahan. Jangan biarkan benih-benih yang merusak kemurnian Islam tumbuh khususnya di Aceh," katanya menegaskan.
Faisal Ali yang Ketua PWNU Aceh, mengimbau pihak kepolisian dan petugas pengawas Syariat Islam (Wilayatul Hisbah/WH), agar tidak mentolerir kegiatan yang dapat merusak budaya Aceh yang Islami. "Itu penting dilakukan sebagai upaya pencegahan jangan sampai ada warga yang terpaksa bertindak sendiri untuk menertibkan kegiatan menyimpang dari Syariat Islam," ujar dia.
Mayoritas masyarakat Aceh telah berkomitmen untuk menegakkan syariat Islam secara kaffah (menyuluruh) di bumi berjuluk Serambi Mekah ini. "Kalau itu menjadi komitmen kita maka pemerintah, polisi dan seluruh elemen masyarakat harus bersatu mencegah berbagai hal yang merusak budaya Aceh yang Islami," katanya.
Faisal Ali juga mengimbau orang tua di Aceh khususnya untuk mengajarkan kepada anak-anaknya tentang perayaan-perayaan yang dianjurkan dalam Islam, seperti memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulud). Dipihak lain, ia masyarakat luar Aceh yang berada di provinsi itu agar tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan adat dan budaya serta ajaran Islam yang telah melekat dalam diri mayoritas penduduk daerah ini.

MUI Dumai Tegaskan Perayaan Hari Valentine Haram


MUI Dumai Tegaskan Perayaan Hari Valentine Haram
Dumai (ANTARA) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Dumai, Riau, menegaskan perayaan Hari Valentine (Valentine`s Day) pada 14 Februari adalah haram bagi umat Islam karena peringatan hari itu lari dari norma agama dan kesusilaan.
Ketua MUI Dumai Roza`i Akbar kepada ANTARA di Dumai, Kamis, menjelaskan, Hari Valentine adalah sebuah hari kasih sayang bagi warga di Dunia Barat yang berada di luar agama Islam.
"Dilihat dari asal muasalnya, diketahui bahwa Valentine merupakan hari raya bagi kaum non-Islam di Roma, Italia. Untuk itu, Valentine haram bagi mereka yang beragama Islam," tegasnya.
Roza`i menyatakan peringatan Hari Valentine merupakan budaya yang tidak pantas diterapkan dalam ajaran Islam karena identik dengan kebebasan kaum remaja dalam menjalin atau mengikat suatu hubungan di luar nikah.
"Apa jadinya jika Valentine membudaya di tubuh Islam. Hal ini yang menjadi pertimbangan kenapa perayaan yang dikenal dengan hari kasih sayang ini haram bagi mereka yang beragama Islam," katanya.
MUI mengimbau kepada seluruh orang tua Muslim untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa Hari Valentine bukanlah sesuatu hal atau hari yang harus dirayakan.
"Selain itu, mereka sebaiknya diberi pengetahuan dan pencerahan agamis agar Valentine tidak menjadi tradisi tahunan bagi kaum remaja muslim," katanya.

Sesat Lagi Menyesatkan

Setiap kali persoalan Ahmadiyah “pecah”, para pengamat atau para tokoh lantas lantang berkoar tentang HAM. Bila sudah begini, secara politis Ahmadiyah sering diuntungkan. Padahal inti persoalan adalah dan ini sepertinya sengaja mereka lupakan, bahwa Ahmadiyah yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad sejatinya telah tidak dikeragui sebagai “perusak” Islam. Karena itu Ahmadiyah dinyatakan sebagai ajaran “Sesat Lagi Menyesatkan“.
Dalam konteks demikian keadaan mereka persis sebagaimana firman Allah SWT, artinya: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Mahapemurah (al-Qur-an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (QS Az-Zukhruf: 36 -37)  *Izhar Ilyas _ 5 Rabiul Awal 1432 H