Senin, 21 Februari 2011

Mentauhidkan Allah

SESUNGGUHNYA tugas para Rasul adalah menyibak kemusyrikan dari pandangan manusia, sehingga mereka benar-benar hanya menghambakan diri kepada Allah SWT. Begitulah, terkait berhala-berhala yang dijadikan sembahan manusia selain diriNya, Allah SWT berfirman, artinya: “Apakah mereka (berhala-hala) mempunyai kaki untuk berjalan, atau mempunyai tangan untuk memegang dengan keras, atau mempunyai mata untuk melihat, atau mempunyai telinga untuk mendengar? Katakanlah Muhammad: “Panggilah berhala-berhalamu yang kamu anggap sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku, dan jangan kamu tunda lagi. Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab (Al Quran). Dia melindungi orang-orang yang saleh”. (QS Al A’raf: 195 – 196) *Izhar Ilyas

Minggu, 20 Februari 2011

Kamar Tidur

SEJATINYA kamar tidur bagi pasangan keluarga adalah ruang pribadi. Terkait aturan memasukinya Allah SWT telah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh (dewasa) si antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali (kesempatan), yaitu sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu ditengah hari dan setelah shalat ‘Isya (itulah) tiga aurat (waktu) bagi kamu. Tidak ada dosa bagimu dan tidak (pula) bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu, mereka keluar masuk melayani kamu, sebagian kamu atas sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepadamu. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana". (QS An-Nuur: 58) .*Izhar Ilyas

Kecemasan Rasulullah

TIDAK berlebihan, bila setelah melihat kehangatan ukhuwah islamiyah antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, kemudian timbul segumpal kecemasan dalam diri Rasulullah SAW. Begitulah, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash ra. Rasulullah bersabda: “Apabila Persia dan Rum ditaklukkan, kamu akan menjadi umat yang mana? Kata ‘Abdurrahman bin ‘Auf, kami menjawab: “Menjadi umat sebagai yang diperintahkan Allah!” Sabda Rasulullah SAW: “Atau mungkin tidak begitu, di mana kamu berlomba-lomba dengan kemewahan dunia, kemudian iri-mengiri, kemudian saling tidak mau tahu, kemudian saling memusuhi dan sebagainya. Kemudian kamu pergi kepada orang-orang Muhajirin yang serba melarat. Lalu kamu perbudak sebagian mereka atas sebagaian yang lain”. (Hadits Shahih Muslim: 2493)*Izhar Ilyas

Sabtu, 19 Februari 2011

Perihal Makanan

BILA Allah SWT membolehkan atau melarang sesuatu, pasti terdapat berbagai hikmah di balik suruhan atau larangan itu. Begitulah, berkenaan dengan makanan misalnya, padanya tidak kurang terdapat berbagai larangan dan suruhan tersebut.

Terkait hal di atas Allah SWT berfirman, artinya: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menghambakan diri kepadaNya. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan  atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (hewan) yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah, tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya) bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sungguh, Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang”. (QS An-Nahal: 114 – 115) *Izhar Ilyas

Kamis, 17 Februari 2011

“Belajar Fisika Secara Islami”

Senin, 30 Agustus 2010
JURNAL Islamia-Republika, Kamis (19/8/2010) mengangkat tema menarik tentang “Bagaimana Belajar Ilmu Fisika Secara Islami”. Sebagian orang menduga bahwa ilmu alam bersifat netral agama. Siapa saja belajar fisika, beragama apa pun dia, hasilnya tetap sama. Listrik akan tetap menyala, ketika saklar dipencet. Siapa pun yang memencet, apakah dia muslim atau kafir, hasilnya tetap sama saja. Jadi, wajar jika ada yang bertanya, apa ada cara belajar Ilmu Fisika yang Islami?
Pertanyaan itulah yang dijawab Usep Muhamamd Ishad, kandidat Doktor Ilmu Fisika di ITB Bandung, yang juga peneliti INSISTS.
Dalam artikelnya, Usep menguraikan, bahwa yang sebenarnya perlu diislamkan saat belajar Ilmu Fisika adalah pikiran pelajar, mahasiswa, atau peneliti saat menghadapi fenomena alam.
Seorang Muslim melihat alam semesta ini sebagai “ayat-ayat Allah”, karena itu saat mengamati dan meneliti fenomena alam, mereka bukan saja berusaha mendapatkan temuan-temuan baru di bidang sains, tetapi juga meyakini bahwa di balik alam semesta yang begitu teratur ini ada Yang Maha Pencipta (Al-Khaliq).

PROF. Azyumardi: Pendidikan Islam di IAIN adalah “Islam Liberal”

Last Updated on Tuesday, 25 January 2011 03:25 Tuesday, 25 January 2011 03:11
Written by Adian Husaini
Azyumardi Azra [foto: republika]
“Sebagai lembaga akademik, kendati IAIN terbatas memberikan pendidikan Islam kepada mahasiswanya, tetapi Islamyang diajarkan adalah Islam yang liberal. IAIN tidak mengajarkan fanatisme mazhab atau tokoh Islam, melainkan mengkaji semua mazhab dan tokoh Islam tersebut dengan kerangka, perspektif dan metodologi modern. Untuk menunjang itu, mahasiswa IAIN pun diajak mengkaji agama-agama lain selain Islam secara fair, terbuka, dan tanpa prasangka. Ilmu perbandingan agama menjadi mata kuliah pokok mahasiswa IAIN.”
“Jika di pesantren mereka memahami dikotomi ilmu: Ilmu Islam (naqliyah dan ilmu keagamaan) dan ilmu umum (sekuler dan duniawiah), maka di IAIN merekadisadarkan bahwa hal itu tidak ada. Di IAIN mereka bisa memahami bahwa belajar sosiologi, antropologi, sejarah, psikologi, sama pentingnya dengan belajar ilmu Tafsir al-Quran. Bahkan ilmu itu bisa berguna untuk memperkaya pemahaman mereka tentang tafsir. Tetapi, IAIN tidak mengajarkan apa yang sering disebut dengan “islamisasi ilmu pengetahuan” sebab semua ilmu yang ada di dunia ini itu sama status dan arti pentingnya bagi kehidupan manusia.”

Pengaruh Teman

TEMAN, sahabat dan atau apapun sebutannya, keberadaannya sangat berarti dan penting dalam hidup dan kehidupan kita. Begitulah, tidak seorangpun kita yang tidak mempunyai teman. Ditilik dari sudut pengaruh, secara umum teman bisa membahagiakan, namun sebaliknya juga bisa menyengsarakan.

Terkait hal demikian, dari Abu Musa r.a katanya Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan duduk dengan orang baik-baik dibandingkan dengan duduk bersama orang jahat, seumpama penjual kesturi dan dapur tukang besi. Engkau tidak akan lepas dari pemilik kesturi. Ada kalanya engkau membeli kesturi itu, sekurang-kurangnya mencium baunya. Sedangkan dapur tukang besi, membakar tubuhmu atau sekurang-kurangnya engkau mencium bau busuknya”. (Hadits Shahih Bukhari: 1033) *Izhar Ilyas