Rabu, 05 Januari 2011

Dosa Besar, Paling Besar

Perihal perbuatan dosa sangat banyak disinggung atau dijelaskan Allah SWT dalam firman maupun sabda RasulNya. Dilihat dari bentuknya, dosa terbagi dua yaitu dosa besar dan dosa kecil.
Terkait berbagai dosa besar, dari Anas Malik ra, katanya Rasulullah SAW pernah menyebutkan dosa-dosa besar atau pernah ditanya orang tentang hal itu. Beliau bersabda: "Mempersekutukan Allah, membunuh manusia, durhaka kepada kedua orangtua". Setelah itu beliau berkata: "Akan saya beritahukan kepadamu dosa besar yang paling besar" Beliau melanjutkan: "Perkataan bohong!" Atau beliau berkata: "Kesaksian dusta!" (Hadits Shahih Bukhari: 1694) *Izhar Ilyas

Selasa, 04 Januari 2011

Menyikapi Kezaliman

ZALIM atau kezaliman berarti melanggar hak dan cendrung kepada kabatilan. Dalam frase lain dikatakan; "penistaan terhadap nilai-nilai kebenaran". Islam sangat membenci atau mengutuk perbuatan tersebut. Pada konteks demikian, menurut Islam, manusia yang tidak mau berhukum dengan hukum Allah SWT dicap sebagai sebuah tindak kezaliman. Hal demikian tertera jelas dalam firmanNya Surat Al-Maidah ayat 45, artinya; "Barangsiapa yang tidak memutus perkara menurut apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang zalim".

Terkait demikian, menyikapi para pelaku kezaliman, lebih lanjut Allah SWT tegas berfirman, artinya: "Dan janganlah kamu cendrung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolongpun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan". (QS Huud: 113) *Izhar Ilyas

Senin, 03 Januari 2011

Rahmat Allah Di Dunia

BERBICARA tentang Rahmat Allah SWT yang telah dilipah-curahkanNya kepada kita para makhlukNya, maka semua itu sungguh tidak akan terhitung jika dihitung dan tidak akan ternilai jika dinilai. Padahal itu baru satu bahagian dari seratus bahagian Rahmat yang dimilkiNya. Sungguh amat tidak terbayangkan bagaimana bila RahmatNya itu kelak sempurna dicurahkanNya kepada kita.

Terkait demikian, dari Abu Hurairah ra katanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Allah Ta'ala menjadikan sifat Rahmat seratus bagian (porsen). Maka dipegang di sisiNya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkanNya satu bagian ke bumi. Maka dengan yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sehingga seekor hewan mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak olehnya". (Hadits Shahih Muslim: 2366) *Izhar Ilyas

Minggu, 02 Januari 2011

Hukum Zina

PERKAWINAN di luar nikah dalam Islam disebut zina. Dalam kekinian ia disebut kumpul kebo, perselingkuhan, samen laven, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Akibat berbagai dampak yang ditimbulkannya, zina termasuk kategori dosa besar. Untuk tidak terjadi perbuatan biadab itu, dalam Surat Al-Isra' ayat 32 Allah SWT telah sangat amat tegas memperingatkan, artinya: "Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya ia adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan".

Begitulah, bila akibat tidak mengindahkan larangan Allah tersebut, seseorang akhirnya jatuh terjerembab ke lumpur zina, maka hukum yang harus diberlakukan kepada masing-masing pelakunya seperti difirmankanNya adalah, artinya: 'Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah menjadikan kamu rasa belas kasihan kepada keduanya untuk menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukum keduanya disaksikan oleh sekelompok orang-orang yang beriman". (QS An-Nuur: 2) *Izhar Ilyas

Memohon Pertolongan

SELAKU manusia, siapa dan dalam kapasitas apapun kita, maka malaikat-malaikat Allah SWT senantiasa mengikuti kita ke mana dan di manapun kita berada. Hal demikian dijelaskan dalam firmanNya Surat Ar-Ra'ad ayat 11, artinya: "Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah".

Seperti dijelaskan di atas, kendati demikian kita sekali-kali tidak boleh meminta tolong dalam hal apapun kepada para malaikat itu, apalagi bermohon kepada jin, setan-iblis, penghuni gunung, penghuni samudera, jembalang-jembaling dan atau kepada arwah si anu atau si ani dan lain sebagainya. Sebab, meminta tolong terhadap hal-hal di luar batas kemampuan manusia hanya boleh dilakukan kepada Allah SWT. Meminta tolong kepada selainNya menyebabkan pelakunya jadi musyrik. Seperti difirmankan, bukankah setidaknya tujuh belas kali sehari semalam dalam shalat kita telah berikrar: "Iyyaaka na'budu waiyyaaka nasta'iinu" (Hanya kepada Engkau kami mengabdi dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan) (QS Al-Fatihah: 5) *Izhar Ilyas

Kamis, 30 Desember 2010

Mati Syahid

JIHAD FI SABILILLAH sejatinya adalah mendakwahkan dan atau menjaga muruah serta menegakkan kalimah Allah SWT setinggi-tingginya. Berdasarkan realitas sejarah, jihad fi sabilillah tidak bisa mengelakkan diri dari benturan-benturan peperangan. Dalam kaitan ini sudah merupakan kelaziman dalam sebuah peperangan, adakalanya seseorang itu membunuh dan atau ia terbunuh. Seseorang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah disebut mati syahid atau syuhada.

Begitulah, tersebab berbagai keutamaan yang terdapat di dalamnya, maka mati syahid sangat menjadi dambaan atau impian  setiap pejuang fi sabilillah. Pada konteks demikian dari Sahal bin Abu Umamah bin Sahal bin Hunaif, dari bapaknya, dari kakeknya, katanya Nabi SAW bersabda: "Siapa yang memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh hendak mati syahid, maka Allah menaikkannya ke tingkatan para syuhada, sekalipun kenyataannya dia mati biasa di tempat tidur". (Hadits Shahih Muslim: 1863) *Izhar Ilyas

Rabu, 29 Desember 2010

Amalan Orang Kafir

BAGAIMANAPUN baik dan bermanfaatnya suatu pekerjaan yang dilakukan orang-orang kafir, namun di sisi Allah SWT pekerjaan atau amalan itu tidak akan mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya sedikitpun juga.

Terkait demikian Allah SWT berfirman, artinya: “Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapati sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisiNya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya. Dan atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak pula, di atasnya lagi ada awan; gelap gulita yang tindih bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”. (QS An-Nuur: 39 s.d 40) *Izhar Ilyas